Menjamah Dunia dari Balik Tembok

Mungkin ungkapan itu, saat ini bukanlah sebuah kemustahilan. Melalui internet, siapa pun bisa melakukan ‘penjelajahan’ ke berbagai Negara di belahan dunia tanpa harus keluar rumah. Bahkan tak hanya itu, karena seseorang bisa juga berinteraksi secara live dengan orang lain dari berbagai penjuru dunia hanya dengan bergabung dalam komunitas virtual yang dibentuk oleh kelompok orang-orang yang gemar memanfaatkan kecanggihan multimedia untuk berkomunikasi.

Di era globalisasi ini, kita sudah semakin sulit membuat batasan antara kehidupan yang lingkupnya lokal dengan masyarakat global. Benar apa yang pernah dikemukakan oleh Soedjatmoko (1991: 102) bahwa keadaan bangsa kita di abad ke-21 (sekarang) berlainan sekali dibandingkan keadaan kita sekarang (era 90-an) (dalam Ibrahim, 2004: 103).

Dunia seolah semakin sempit dan global dengan hadirnya teknologi komunikasi dan informasi, semacam internet. Tak hanya karena jangkauannya yang terlalu luas, namun juga karena kemampuannya melahirkan budaya baru yagn menglobal hamper di seluruh belahan dunia. Budaya yang dimaksud itu adalah budaya cyber.

William Gibson sebagai pencetus istilah cyberspace pertama kali dalam novelnya Neuromancer mengemukakan pendapatnya, sebagai berikut: Cyberspace was a cencensual hallucination that felt and looked like a physical but actually was a komputer-generated construct representing abstract data. Itulah sebabnya budaya cyber ini disebut juga sebagai virtual reality (realitas semu).

Kini, generasi muda di negeri ini cenderung mengalihkan pergaulan mereka ke komunitas tersebut dibandingkan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu faktornya, karena internet mampu memenuhi harapan kaum muda, berkaitan dengan efisiensi interaksi sosial mereka.

Sayangnya, budaya tersebut cenderung berdampak negatif terhadap psikologis masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Skripsiadi & Aning (2005: 77), budaya ini ? merevolusi tatanan nilai yang telah mapan, nilai kesusilaan ditabrak? Dampak lainnya, pengguna internet umumnya mengalami isolasi sosial (sosial isolation). Hasil penelitain Stonford Institution for The Quantitative of Society menyimpulkan bahwa semakin sering seseorang menggunakan internet, maka semakin kurang kontaknya dengan lingkungan sekitar (dalam Suara Pembaharuan, 2/9/2001).

Positif vs Negatif Internet

Setiap teknologi selalu membawa pengaruh positif dan negatif bagi peradaban dunia. Ibarat mata pisau, yang bisa memberikan manfaat, tetapi juga bisa menimbulkan petaka. Begitu pun internet, ia bisa memberikan manfaat sekaligus menyebabkan kehancuran budaya.

Dari segi bisnis, nilai positif internet adalah memberikan keuntungan berlipat ganda bagi para pelaku bisnis. Keuntungan itu bisa kita lihat dari Data Departemen Perdagangan Amerika Serikat yang memperkirakan mulai tahun 2002 omzet perdagangan elektronika mencapai US$ 300 milyar per tahun (dalam Latifulhayat, 2000: 6). Di Indonesia, tengoklah perusahaan Telkom yang meraup keuntungan bersih sekitar Rp 5,8 trilliun di awal trimester tahun 2006 lalu (data diambil dari Kompas, 15/8/2006: 28).

Dari sisi kebudayaan, kehadiran informasi superhighway, seperti email, mailing list, bulletin board system dan situs web memungkinkan khalayak untuk:

1). berhubungan dengan individu lain di manapun dengan cepat, meskipun derbeda ruang dan waktu,

2). menjadikannya sebagai wahana penyaluran aspirasi dan ekspresi, yang tak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri tapi juga banyak orang di dunia, sekaligus sebagai ajang pergaulan antar individu, dan

3). mampu mengakses semua hasil kebudayaan, baik itu lokal, nasional maupun internasional.

Hanya saja perlu kita sadari bahwa di balik itu, ada dampak negatif yang merugikan, khususnya bagi generasi muda sebagai ‘korban teknologi’ paling dominan. Setidaknya ada 2 konsekuensi sosial yang timbul di sana, yakni perubahan hubungan sosial dan transformasi sosial.

Pertama, perubahan hubungan sosial. Dalam komunitas virtual, ramaja cenderung menabrak tatanan moral yang berlaku di masyarakat. Misalnya, melakukan masturbasi di depan webcam, dan disaksikan oleh lawan bicaranya di internet. Begitu juga saat mengakses situs porno, bagi mereka itu semua adalah hal ‘biasa’.

Kedua, transformasi sosial. Internet mengubah wajah masyarakat menjadi masyarakat terbuka. Namun, keterbukaan itu tertindas oleh nilai-nilai heterogen yang menonjolkan sifat pluralistik. Dalam pengantarnya, Skripsiadi & Aning ( 2005) beranggapan, interaksi yang berlandaskan perbedaan itu mempunyai potensi gesekan dan konflik yang sangat besar (hal. vii).

Masih ada lagi akibat negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi komunikasi bagi generasi muda, yakni menigkatkan budaya konsumtif dan memudarkan ikatan kebangsaan, serta memicu maraknya cyber crime, yang mayoritas pelakunya juga generasi muda.

Ada 3 icon budaya postmodern yang relatif paling menarik perhatian generasi muda, yaitu:

1). Mc Donals sebagai icon realitas konsumsi massa,

2). Komputer sebagai icon teknologi simulasi, informasi, dan komunikasi massa, dan

3). MTV sebagai icon hiburan massa (Budiman, 2002: 32).

Ketiganya sangat mempengaruhi lifestyle dan tren di kalangan kawula muda. Mereka merasa lebih bangga bisa menikmati fast food ala Amerika, atau berjam-jam di warnet dan menikmati musik-musik Barat di sana, ketimbang makan nasi sayur yang murah meriah di warung atau berdiskusi bersama teman-temannya atau menghafalkan lagu-lagu kebangsaan. Mochtar Buchari mengatakan, “Ini sungguh suatu petaka” (Kompas, 22/4/2006).

Benteng Pertahanan bagi Generasi Muda

Sebagaimana kita ketahui di awal bahwa mau tidak mau kita ikut terbawa ke dalam arus globalisasi. Di mana salah satu aspek perkembangan teknologi dalam era informasi dan globalisasi adalah semakin maraknya penggunaan komputer (Kedaulatan Rakyat, 15/4/2006: 13).

Generasi muda merupakan sasaran paling potensial bagi para pelaku industri media online ini. Dengan kata lain, generasi muda paling rawan terkena dampak negatif perkembangan internet. Jika tidak pandai-pandai membentengi diri, niscaya ia akan ‘terjebak’ dalam komunitas virtual yang justru memudarkan rasa nasionalisme mereka.

Untuk membangun benteng pertahanan yang kokoh, diperlukan sinergi dari orang tua, keluarga, pemerintah, dan juga individu itu sendiri. Adapun langkah konkretnya melalui beberapa hal, sebagai berikut:

Pertama, melalui pendidikan. Arti pendidikan di sini bukan sekedar sekolah formal, namun pendidikan yang oleh President Sokka Gakkai International, Daisaku Ikeda sebagai pendidikan yang meletakkan orang-orang pada jalan penemuan dan penciptaan diri. Di sini orang tua dan keluarga berperan sebagai pengawas pergaulan sekaligus pendidik yang mengarahkan pencarian âjati diri remaja secara benar. Misalnya, menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri yang luhur, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh budaya ‘Barat’ dalam pergaulannya.

Kedua, agama. Semakin kuat keimanan generasi muda, secara otomatis akan menguatkan benteng pertahanan mereka dari pengaruh budaya luar yang merugikan bagi dirinya. Keimanan ini hanya bisa mengakar kuat pada orang-orang yang mampu memahami ajaran agama dan menerapkan ajaran tersebut dalam kesehariannya. Oleh karena itu, orang tua perlu mendorong anak-anaknya untuk lebih kuat agamanya.

Ketiga, regulasi. Perlu kita pahami bahwa sistem hukum tradisional kita sangat berpegang teguh pada batasan teritorial, padahal karakteristik aktivitas internet bersifat lintas batas, sehingga tidak tunduk pada batasan tersebut. Perlu adanya kesepakatan baru antarnegara atau yang bersifat internasional untuk bersama-sama membuat regulasi guna menangani masalah cyber crime, yang hingga kini belum jelas mekanismenya.

Keempat, self regulation (pengaturan diri sendiri), yakni kesadaran dari individu itu sendiri untuk tidak mudah terbawa arus globalisasi, melalui internet. Kitika ia bisa memilah dan memilih antara yang baik dan yang tidak baik, maka ada atau tidaknya control dari pihak lain, tidak menjadi sebuah persoalan.

Published in: on March 23, 2008 at 11:25 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://yudakuyudz.wordpress.com/2008/03/23/menjamah-dunia-dari-balik-tembok/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: